Melanjutkan cerita PPSMB sebelumnya, pada hari kedua PPSMB PALAPA, kegiatan masih tetap diselenggarakan di Ruang 303 Gedung Vokasi Timur, dan masih dengan Cofas yang sama, yaitu Mas Ilham dan Mbak Ning. Waktu itu aku berangkat pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 WIB. Dalam kegiatan PPSMB hari kedua aku dan teman-teman diberi tugas dari Kakak Cofas untuk mereview tentang apa yang kami dapatkan selama PPSMB hari pertama dan kami juga disuruh mengenal UGM secara lebih mendalam, baik dari lokasinya, beasiswa yang tersedia di UGM, Fasilitas Kampus, Nilai-nilai Ke-UGM an, dan lain-lain. Aku baru menyadari bahwa UGM sangat memperhatikan Mahasiswanya, dengan memfasilitasinya, sehingga hal tersebut membuat kami nyaman dan merasa bangga dapat menjadi Mahasiswa UGM.

Dari seluruh rangkaian kegiatan hari kedua, kegiatan yang menurut saya berkesan ketika tiap-tiap Mahasiswa maju kedepan membawa barang bawaan khas daerahnya, dan menceritakannya kepada teman gugus. Waktu itu aku membawa ukiran Jepara, mengapa aku bawa ukiran, karena semua orang pasti tau kalau Jepara disebut juga Kota Ukir.
Jadi jepara merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang namanya cukup dikenal karena kerajinan seninya, dalam kata lain lebih ke Seni Ukirnya, bahkan kerajinan Ukiran dari Jepara sudah terkenal sampai ke seluruh dunia.

Hasil gambar untuk motif ukiran jepara
Gambar 1. Motif Ukiran Jepara

Masyarakat memang banyak yang menyukai Seni Rupa Ukiran dari Jepara karena keindahannya. Sisi keindahan alam yang sangat kental ditampilkan pada ukuran motif relung daun yang ada pada motif Jepara. Pada contoh ukiran yang aku bawa dari Jepara menonjolkan keluwesan dari bentuk daun yang menjalar. Biasanya juga ditambah dengan motif Hewan pada desain Ukiran untuk lebih mempercantik ukiran yang dihasilkan. Pengerjaan ukiran Jepara, pada umumnya menggunakan teknik Krawangan ( 3 Dimensi ). Teknik Krawangan merupakan suatu teknik ukiran yang dibuat secara detail bagian atas maupn bagian bawahnya, tidak jarang pula ditambahkan motif ukiran dedaunan yang cukup kecil guna memperlihatkan sisi keindahan ukiran tersebut. Untuk bahan dasar pembuatan ukiran, biasanya menggunakan kayu jati karena dianggap kokoh dan tahan lama.

Setelah kegiatan selesai ada cerita tersendiri saat aku mau pulang ke Kost. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.30 dan melihat ada temanku dari FKH juga yang berjalan kaki. Tanpa ada rasa canggung akupun langsung memanggilnya dan mengajaknya untuk pulang bersama sekalian, daripada jalan kaki, kan akan lebih enaknya jika naik motor bareng biar tambah akrab juga. Karena aku masih awam tentang peraturan lalu lintas di Jogja, khususnya peraturan kalau member tumpangan orang maka orang yang diberi tumpangan tersebut juga harus memakai helm dua-duanya. So aku kena tilang deh.. He. He. He.. selama ditilang dan memasuki ruang kantor polisi, aku sangat ketakutan, ya maklum lah karena di Desaku tidak ada peraturan seperti itu, kalo di Jepara yang penting pengendara depan bawa Helm saja sudah aman, sementara di Jogja tidak demikian. Setelah lama bernegosisasi akhirnya uang sakuku berkurang, Rp. 100.000 pun melayang sia-sia, tapi bagiku itu tidak masalah. Karena yang terpenting aku dapat menjadikan hal tersebut sebagai pelajaran yang berharga, karena jika aku tidak ditilang, mungkin akan membahayakan temanku jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Setelah keluar dari Kantor Polisi, aku hanya bisa meratapi jatah makan 3 hari yang melayang sudah.. He. He. He. Untung saja aku masih membawa SIM dan STNK, coba saja kalau aku tidak membawa keduanya, bisa-bisa tidak hanya Seratus Ribu yang melayang, mungkin bisa jadi Sepeda Motorku juga ditahan. Untuk hari kedua PPSMB, banyak pelajaran yang aku dapatkan, terlebih lagi pelajaran mengenai Aturan-aturan tata tertib lalu lintas di Jogja.
Ingin Mengikuti cerita hari ke-3 PPSMB ??.. Stay Tune On This Blog Guys….

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *